Saturday, October 4, 2014

Seni Sakral di pura Besakih

Seni Sakral di pura Besakih


CATUR LOKA PALA

Nama Pura      :  Pura Batu Madeg
Istana              :  Dewa Wisnu
Pujawali          :  Tilem Kalima Penong Bayu,Sarwa maurip,meratas sarwa Arya sami
Piodalan          : Soma Umanis Tolu
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku Suwenten)

CATUR LOKA PALA
Nama Pura      :  Pura Gelap
Istana              :  Dewa Iswara
Pujawali          :  Purnama Sasih Karo
Piodalan          : Soma Kliwon Wariga
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku Putu)

CATUR LOKA PALA


Nama Pura      :  Pura Kiduling Kerteg
Istana              :  Dewa Hyang Brahma
Pujawali          :  Anggara Wage Dungulan ( Penampahan Galungan)
Piodalan          :
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku Putu)



CATUR LOKA PALA

Nama Pura      :  Pura Ulun Kulkul                      
Istana              :  Dewa Hyang Maha Dewa
Pujawali          :  Tilem Katiga
Piodalan          : Saniscra Keliwon Kuningan ( Hari Raya Galungan)
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku Wanasari)




Catur Lawa
Nama Pura      :  Pura Ratu Pasek
Istana              :  Hyang Ratu Pasek
Pujawali          :  Purnama Kawulu
Piodalan          :
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)




Catur Lawa

Nama Pura      :  Pura Bagus Pande                     
Istana              :  Ida Ratu Bagus Pande
Pujawali          : 
Piodalan          : Tumpek Landep
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)





Catur Lawa

Nama Pura      :  Pura Ratu Dukuh                      
Istana              : Ida Bhatara Ratu Dukuh Sari
Pujawali          :  Purnama Kapat
Piodalan          :
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)






Catur Lawa


Nama Pura      :  Pura Ratu Penyarikan               
Istana              :  Ida Bhatara Ratu Bagus Penyarikan
Pujawali          : 
Piodalan          : Anggra Kasih Prangbangkat
Puja Mantra     : Kusuma Dewa (menurut Jro Mangku)





Catur iswara


Nama Pura      :  Pura Pasucian                            
Istana              :  Dewa Mahesora
Pujawali          : 
Piodalan          : Sukra Pahing Gumbreg
Puja Mantra     :  OM Mahesora Murti Loka
                          Agniya lingem Arcanem
                         Sarwa Usadi Nugrahakem
                        Weda Mantram Sidhi Yoga
                        Dharma Sadhi Nugrahakem
                        Merta Bhumi Maha Wirya
                        Moksanem Sane Sarwa Papebyah
                        Purnajiwa Jagat Werdhi ( Ida Pandita Mpu Nabe Arcarya Prami)















Catur Aiswarya

Nama Pura      :  Pura Pasimpangan                     
Istana              : 
Pujawali          : 
Piodalan          : Anggara Kliwon Julungwangi
Puja Mantra     : Sesontengan Dewa (menurut Jro Mangku)


Catur aiswarya

Nama Pura      :  Pura Paninjoan                          
Istana              :  Dewa Sangkara
Pujawali          : 
Piodalan          : Wrespati Wage Tolu
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)


Catur aiswarya


Nama Pura      :  Pura Pangubenan                      
Istana              :  Dewa Andakasa
Pujawali          :  Purnama Kadasa
Piodalan          : Budha Wage Klawu
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)


Nama Pura      :  Pura Merajan Kauh                   
Istana              :  Ida Bhatara Istri
Pujawali          : 
Piodalan          : Sukra Umanis Klawu
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)








Nama Pura      :  Parhyangan Merajan Kangin     
Istana              :  Ida Bhatara Rambut Sedana
Pujawali          :  Sugian Manik BALI
Piodalan          : Saniscara Kliwon Klurut (tumpek)
Puja Mantra     : Sesontengan  (menurut Jro Mangku)





Nama Pura      :  Pura Basukian                           
Istana              :  Hyang Naga Basuki
Pujawali          :  Purnama Kaulu (Aa)
Piodalan          :  Buda Wage Klawu ( Budha Cemeng)
Puja Mantra     : Wisnu Astawa (menurut Jro Mangku Made Pinda)




Nama Pura      :  Pura Merajan Selonding            
Istana              :  Pemujaan Dewi Saraswati
Pujawali          : 
Piodalan          :  Wrespati kliwon Warigadean
Puja Mantra     : Sesontengan (menurut Jro Mangku)





Jurnalistik

Jurnalistik


Kesenian Jaran Kepang Pada Saat Resepsi Pernikahan Di Desa Mendoyo Dangin Tukad Banjar Delod Pempatan
Kuda lumping juga disebut jaran kepang atau jathilan adalan tarian tradisional Jawa menampilkan sekelompok prajurit tengah menunggang kuda. Tarian ini menggunakan kuda yang terbuat dari bambu atau bahan lainnya yang di anyam dan dipotong menyerupai bentuk kuda, dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang digelung atau dikepang. Anyaman kuda ini dihias dengan cat dan kain beraneka warna. Tarian kuda lumping biasanya hanya menampilkan adegan prajurit berkuda, akan tetapi beberapa penampilan kuda lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut. Jaran kepang merupakan bagian dari pagelaran tari reog. Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatra Utara dan beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Surinama, Hongkong, Jepang dan Amerika.
Kuda lumping adalah seni tari yang dimainkan dengan properti berupa kuda tiruan, yang terbuat dari anyaman bambu atau bahan lainnya dengan dihiasi rambut tiruan dari tali plastik atau sejenisnya yang di gelung atau dikepang, sehingga pada masyarakat Jawa sering di sebut sebagai jaran kepang. Tidak satupun catatan sejarah mampu menjelaskan asal mula tarian ini, hanya riwayat verbal yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Konon tari kuda lumping adalah tari kesurupan. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari kuda lumping menggambarkan kisah seorang pasukan pemuda cantik bergelar Jathil penunggang kuda putih berambut emas, berekor emas serta memiliki sayap emas yang membantu pertempuran kerajaan Bantarangin melawan pasukan penunggang babi hutan dari kerajaan Lodaya pada serial legenda Reyog ke 8.
Terlepas dari asal usul dan nilai historisnya, tari kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda atau kavaleri. Hal ini terlihat dari gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan agresif, melalui kibasan anyaman bambu, menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan.
Seringkali dalam pertunjukan tari kuda lumping, juga menampilkan atraksi yang mempertontonkan kekuatan supranatural berbau magis, seperti atraksi mengunyah kaca, menyayat dengan golok, membakar diri, berjalan di atas pecahan kaca. Mungkin, atraksi ini merefleksikan kekuatan supranatural yang pada zaman dahulu bekembang di lingkungan Kerajaan Jawa, dan merupakan aspek non militer yang dipergunakan untuk melawan pasukan Belanda.
Jaran Kepang yang berada di desa delod pempatan, Kecamatan Mendoyo, Bali didirikan pada tahun 1968. Awal mula keberadaan Jaran Kepang ini di bentuk pada saat itu adalah Rukun Truna (Truna-truni). Pada saat itu warga masyarakat desa delod pempatan ini tidak memiliki biaya dalam proses pembuatannya. Hingga akhirnya di sponsori oleh Bapak Wayan Sentra. Sehingga salah satu masyarakat disana bersedia untuk membantu untuk membuat jaran yang pertama kalinya bernama Kumpik Sinih (alm) dan terus di lestarikan oleh muda-mudi khusus desa delod pempatan saja. Jaran kepang yang berada di desa delod pempatan ini hanya sebagai kesenian yang sekarang di sakralkan keberadaannya. Karena hanya desa tersebut yang mempergunakan Jaran Kepang tersebut. Jaran Kepang ini sama halnya sang pengantin, terdiri dari Jaran Kepang Hitam yang melambangkan seorang laki-laki. Sedangkan Jaran Kepang putih di lambangkan sebagai simbol wanita.Jaran Kepang ini hanya dijadikan kesenian dan tradisi pengantenan dan dipakai pada saat mesakapan sewaktu sang mempelai pulang kerumahnya oleh masyarakat setempat. Seseorang maupun masyarakat setempat yang yang menunggangi Jaran Kepang tersebut akan kesurupan. Sama halnya pada Jaran Kepang yang berada di pulau Jawa.
Kesenian ataupun tradisi Jaran Kepang ini sampai saat ini belum ada cerita tertulis atau lontar hanya cerita secara lisan saja yang beredar di masyarakat. Jaran Kepang yang beraada di desa saya ini memakai topeng (tapel). Topeng yang digunakan hanya menutupi setengah wajah dari si pemakainya. Ketika sang penunggang kuda memakai topeng kudanya dan gambelan bleganjur yang mengirinya di mulai , maka seketika iya pun langsung kakinya tidak bisa diam. Layaknya seperti kuda yang yang mau kawin kesana kemari. Tetapi anehnya ingatan para penunggang Jaran Kepang ini tetap sadar tidak ada istilah lupa ingatan dalam memainkan Jaran Kepang ini. Hanya kakinya saja yang tidak bisa terkontrol. Tetapi beberapa penunggangnya ada pula yang kesurupan total. Pada suatu ketika Jaran Kepang ini dipinjam oleh Pekak Bares (alm) dipakai untuk mengiringi arisan atau lomba layang-layang pada saat itu. Jaran Kepang ini di gunakan sebagai arak-arakan lomba. Biasanya memakai kuda. Tetapi berhubungan kuda yang dipakai itu mati, maka dipinjamlah replikanya atau Jaran Kepang ini. Jaran Kepang ini sangat lama dipinjam oleh Pekak Bares. Pada saat proses layang-layang berlangsung anak dari Pekak Bares (alm) yang bernama Ketut Kik (alm) menunggangi Jaran Kepang itu. Jaran Kepang irtu di gembalakan layaknya Kuda hidup. Di bawanya ketengah-tengan tanaman kedelai yang berada di sawah. Di timur sawah itu ada sungai kecil, di sanalah Jaran Kepang itu di mandikan. Sampainya di rumah, badan Ketut Kik ini tiba-tiba badannya panas. Rumah Pekak masih rumah yang dulu, tempat tidurnya masih memakai kelambu. Jaran Kepang ini di taruh di bagian bawah tempat tidur. Lalu anaknya Ketut Kik (alm) tidak tahu silsilah dari Jaran Kepang tersebut. Hingga pada suatu ketika Jaran itu di gantungin celananya yang sudah di pakai. Keesokan harinya mulailah ada tanda-tanda sakit di lingkungan pekarangan keluarga Pekak Bares tersebut. Dan Ketut Kik (alm) ketakutan setiap masuk kamar bapaknya. Karena ia melihat penampakan roh Jaran Kepang itu teramat besar baginya. Jaman dulu sangat kental sekali dengan mangku balian. Hingga ditanyakanlah disana kenapa mejadi sakit seperti ini. Mangku balian pun mengatakan ada seekor kuda yang berada di bagian bagian bawah tempat tidur yang di ikat lalu di gantungin celana. Mangku balian berpendapat bahwa Jaran tersebut yang membuat sakit. Lalu di kembalikannya Jaran Kepang tersebut ke desanya.

Sampai sekarang orang-orang mengetahui adanya Jaran Kepang ini tidak berani sembarangan meminjam Jaran Kepang ini. Karena takut terjadi hal yang di alami oleh keluarga Pekak Bares (alm) tersebut. Sekarang gamelan yang mengiringi atraksi Jaran Kepang adalah Angklung pengantenan. Pada saat sang penunggang ini berias di pakainya canang taksu dan meminta tirta dari canang taksu tersebut.
Tradisi Jaran kepang ini di percaya dapat sebagai pengahalau mara bahaya sang penganten. Jaran ini sebagai tameng prosesi acara itu berlangsung. Jika ada orang yang berniat buruk terhadap sang penganten itu, maka supaya di hilangkan oleh adanya Jaran Kepang tersebut. Pada saat prosesi mesakapan, sebelum sang mempelai sampai pada rumahnya ia akan di sambut dengan  iring-iringan deeng dan Jaran Kepang tersebut. Sang mempelai di turunkan tidak terlalu jauh dari rumahnya. Ketika akan berjalan menuju rumah, Jaran Kepang ini akan selalu mengitari sang pengantin ini. Jaran Kepang ini ibarat kuda yang sedang pada masa kawin. Maka tingkah laku sang Jaran ini seperti mau kawin.
Pada saat Jaran Kepang ini memulai tariannya dan di lepas dari ikatan pengiringan, maka yang menungganginya semakin agresif. Setiap melihat ibu-ibu yang berpakain seksi maka Jaran ini semakin tebar pesona. Seperti melihat pasangannya. Jaran kepang ini mengetahui dari celah-celah topengnya raut wajah kita. Semakin kita takut untuk melihat ataupun mendekati Jaran ini, maka Jaran ini semakin berani dan bisa di bilang kurang ajar mendekatinya. Karena sifat hewan itu melekat pada sang penunggangnya. Orang-orang yang menontonnya pun berhamburan melihatnya.kebanyakan ada yang ketakutan, ada pula yang geli melihat tingakah sang kuda. Tetapi sang kuda tidak melalaikan tugasnya mengiringi sang pengantenan. Ketiga jaran kepang ini selalu siaga dalam mengawasi iring-iringan pengantenan. Selalu waspada ketika tiba-tiba ada serangan ilmu gaib. Jaran kepang siaga mengahalaunya. Ini di tunjukan pada jaran yang selalu kedepan dan kebelakang. Bergantian bertugas mendampingi sang pengantenan itu.

Narasumber menyebutkan kebanyakan orang-orang maupun masyarakat meragukan tingakah laku sang Jaran Kepang. Masyarakat berfikir itu hanya akal-akalan sang penunggang Jaran. Mencari kesempatan dalam kesempitan. Banyak lah pro dan kontra di masyarakat. Dan pada akhirnya masyarakat yang meragukan tindakan daripada Jaran Kepang itu sendiri memberikan kesempatan untuk menunnganginya. Setelah salah satu masyarakat menungganginya, maka ia pun percaya kalau sulit mengendalikan. Sang penunggang pun bergerak sana-kemari, tak dim-diam. Tetapi sang penunggang masih sadar akan dirinya. Maka orang-orang maupun masyarakat setempat tidak ada lagi yang berbicara sumbang tentang tradisi ini. Setelah acara menyambut dan mengantar pengantin kerumahnya, terkadang jaran kepang ini suka melarikan dirinya ataupun ngumpet di sela-sela pepohonan. Itu yang menyebabkan sang pemangku sulit dapat mengendalikan kondisi sang jaran kepang ini. Setelah di kumpulkannya jaran ini diberikan tirta dan canang peras untuk mengeluarkan roh dari sang penunggang. Jika tidak di berikan canang tersebut. Takutnya sang penunggang terus di hantui oleh roh dari jaran kepang itu sendiri. Kini semakin jarang di temukan ataupun yang mau membuat jaran kepang ini. Karena bisa di katakan sedikit yang bisa menikmati kesenian ini.

Namun tradisi ini terus akan di lestarikan dalam acara pengantenan. Karena kemajuan zaman pada masa ini sangatlah pesat. Tetua desa itu takut akan kehilangan jati dirinya dan kekhasan dari desa tersebut. Setiap ada pernikahan di desa itu baik laki-laki maupun perempuan wajib menggunakan tradisi Jaran Kepang ini.

Narasumber : I Gede Gianyar (selaku tetua yang ikut mendirikan dan melestarikan kesenian Jaran Kepang)

Cara Kerja Filologi

Cara Kerja Filologi


A.   Cara Kerja Filologi
1.      Judul                                                   : Satua I Tengkulak
2.      Nomer Naskah                                    : VI B/ 6 / 1652
3.      Tempat Penyimpanan Naskah             : Gedong Kirtya
4.      Asal Naskah                                        : Di kumpulkan oleh Tuan W. Spies, Ubud                                                              (Gianyar)
5.      Keadaan Naskah                                 : Baik (utuh)
6.      Ukuran Naskah                                   : 50,4 x 3,3
7.      Tebal Naskah                                      : 10 lembar
8.      Jumlah Baris                                        : 4 Baris
9.      Huruf/Aksara Yang Digunakan          : Aksara Bali
10.  Ukuran Dan Bentuk Huruf                 : Normal
11.  Bentuk Tulisan                                    : Tegak
12.  Cara Penulisan                                    : Bolak balik
13.  Bahan Naskah                                     : Daun Rontal
14.  Bentuk Teks                                        : Satua
15.  Umur Naskah                                      : 75 Tahun
16.  Identitas Pengarang                            : Wayan Sabda, Selat (Karangasem), di                                                                   koempoelkan oleh Toean W. Spies, Oeboed                                                           (Gianyar)
17.  Asal-Usul Naskah                               : Selat Karangasem
18.  Fungsi                                                 : sebagai cerminan bahwa sebagai manusia                                                             itu harus berusaha tanpa putus asa tanpa                                                              meninggalkan ajaran-Nya
19.  Iktisar/Ringkasan Secara Ringkas       :
Satua I Tengkulak
Inggih wenten satua jadma, mawasta I Tengkulak. Ipun ten madue wisaya, karyan ipune ring pasar nunas-nunas, ngidih-ngidih, ring nuju wenten anak madaar, ring wusana madaar ngentungang tekor, punika kaambil antuk I Tengkulak. Kene ja lacur tiange, dija ada anak olas, nyupat tiang, tiang bakal masanggup ngamanjakin, asapunika pangucap ipune newek, sambilang ipune mamargi, tur ngentap alas wajah. Suaran macan pagelu. Taler wengi rahina ipun mamargi. Tan duma-de rauh raris ipun ring pinggir sagarane kaler sane kaucap sagara Batu. Rauh irika ipun mararisan, tur raris marengang matan ipune ngiwas-iwasin jadma, suung pisan irika, dening mula ten sasaban jadma. Dados kasuen-suen ipun ngarenggeng, dados ipun bedak, irika raris ipun pacang ngarereh toya ring sagarane. Wawu enteg jerijin buntut ipune asiki sane ring kacing, raris dados batu kacing ipune mabentil. Dados tengkejut manah ipune, wawu ton ipun kacing ipune mabentil. Irika raris ipune mamanah. Bah ne kene nyane dini, nyandang sing ja ada pentasan, jelma, ne jenenga ane madan pasih Batu. Dening asapunika mamanah ipune, mangde ipune lunga, malih raris ipun matulak mantuk. Sawatara wenten asasih pamargin ipun ngalunga jang wiadin ngamantukang, dados berag pisan ipun. Yadiapin dija tongosang awake, yaning konden ada ganti, diapin dimuncuk tumpenge negak, lamun sing limane anggon nyemak, sing ja krama muncuk tumpenge ngalih bungut, asapunika pitutur timpalne. Raris kaidepang I Tengkulak, raris kasuen-suen kari taler ipune  lacur, wenten raris wetu manah ipun ring griya raris kanikain antuk ida pranda. Ratu pranda, wenten lungsur titiang ring singgih pranda, bes asapuniki lacur titiange, saking titiang alit jantos titiang truna, taler kari titiang manggih lacur. Mangkin yen sueca pranda, titiang nawegang ngalungsur tenung, nanging titiang ngaturang banten.
Nah lamun keto Tengkulak, dadi masih dening Tengkulak lacur sing ja ngelah meme bapa. Asapunikan pangandikan ida pranda, tur raris kagagahang lontar. Bah ne kene cai Tengkulak adan. Ditu diliman caine lakar cang alihang adan. Dening kacing caine mabentil baan batu, asing jemak cai, ya suba ngarinting, awanan cai I Krinting jani adanin cang. Ditu jalarang caine  lakar nepukin rahayu. Raris ipun mapamit.
Nah jani cai beli pada ajak makejang, suudang pesan ngaukin tiang I Tengkulak, jani I Krinting adan cange, saking pangandika Ida pranda. Sasampune mawasta I Krinting, kasuen-suen, taler kari lacoer, irika raris malih ngalalu manah ipune. Sedek rahina kajeng kelion, nuju purnama, wengi wenten pinganan tengah lemeng, raris ipun ka Dalem makemit. Sasampone rauh ipun ring Dalem, teka jeg pulesang ipun dewek ipun ring purian. Sedek ida batara Durga medal, irika raris kacingak I Krinting ipun pules nyingkrung. Irika raris wetu kayun idane kapiwelas, nyingakin ipun I krinting, tur raris kadundun. Bangun lantas I Krinting, raris ipun miwasan, ton ipun batara magremba-gremba, irika jehjeh manah ipune I Krinting, tur raris ipun ngeling, jerit-jerit ipun sambilang nekep jit antuk jejehe. Raris ida magentus warna, mawarna manusa kadi patute, wawu wusan raris I Krinting jejeh, raris kadesekin antuk ida batara. Krinting apa buat saja alih iba mai. Nah orang teken aku. Derika matur raris I Krinting, Inggih ratu batara, titiang ngalungsur sapa raning ledang batara maicayang ring titiang. Irika raris ida batara ngandika, Nah ne Krinting, pagehang pesan iban sing dadi iba loba, ne aku maang iba pipis tatlu, klentinganang pipise tenenan, sakeketeng, apa ja kenehe ngidihin, ditu ja suba misi, asapunika pangandikan ida batara, tur raris kapicayan Punika raris kapamitang antuk I Krinting, ngraris matur ipun mapamit. Ratu paduka batara, titiang ngalungsur mapamit ring palungguh batara, dumadak mangda batara kasiden, laba titiang mapikolih saka di pangandikan batara, asapunika atur I Krintinge. Raris ipun mamargi kajaba. Tan carita ring margi rauh ring beten kepuhe ageng, ring jaban purane. Ring beten kepuhe madaging batu lengser, irika raris ipun maririan, sambilang ipun mamanah-manah. Beh kakene olas ida batara, ngicenin waranugraha. Kakene buin pipis tatlu, apa ja lakar sida anga tenenan, mirib tuah uluk-uluka baan ida batara, pakendelina dogen. Raris cuba manah ipune I Krinting. Batara bes lebian jail, ne dini lakar kalentingang. Irika ring batune lengser raris kaklentingan, raris kaseluk abidang jinahe saking sapute, antuk campah ipune ring manah, tur rarisang ipun kalentingang ipun Ting krinting, wastu apang ada celak selegut begeh. Tan dumade wawu asapunika raris padengok celake, pageduh saking bongkol padange, kantos bek ring soring kepuhe. Irika raris I Krinting gelu, tur raris ipun mapajar. Beh dewa ratu, malah-malah ja titiang nyoba, ne saking jati sueca ida batara, bakat kadenang ida jail, asapunika manah ipune I Krinting. Ne kenken jani abete. Dening nu pipise buin dadua, apa jani tagihin ne, jen tagihin kasugihan, ne kene celake begeh pesan, jen pade uningine baan ida batara, sinah banya lakar anggon ngilangang celake, nene aketeng lakar tunasin kasugihan.” Asapunika manah ipune I Krinting, raris kaklentingang malih abidang punika jinahe Ting krinting, wastu apang ada ilang celake makejang. Ical raris makasami punika celake, rauhing celak ipune I Krinting. Irika raris balihin ipun celak ipune paawinan ical kantenang ipun. Irika gelu manah ipune, raris ipun mabaos ring padewekan ipune. Beh ne kene tunas awake coba ring ida batara, dening suba da paceket batara, nganikayang tusing dadi coba, digantin lacure tepukin nadak sara dadi coba masih banja. Asapunika pangarenggeng ipun I Krinting, raris keweh ipun mamanah. Jani kenken abete, pipi nu bin keteng, yen payu tunasin kasugihan, deweke kakene tan pacelak. Yen jela ke tunas apang buin tumbuh, lacure nu buka kakene. Ah kene pisan abete, kadung awak suba lacur, diapin kenkenang masih neraka, ulat sugih tusing macelak. Apa indrian idepe nyen. Adaan celake suba tunas, kaping eling ipun, ring katuturang odah ipune. Wenten kocap desa mawasta Surup danta. Janmane irika sami luh, nenten muanin ipun. Turing sariran ipune magigi. Punika awinan nenten wenten anak muani. Irika raris I Krinting epot ngarereh palpalan kaanggen kisa. Sawetara petang dasa punika kawadin kisa, sasampune puput mawadah kisa, I krinting raris ipun mawesa luh makamben luh turing mapusung. Punika raris kabakta kisane makasami sane madaging celak tur raris mamargi. Tan carita ring margi, kasuen-suen rauh ring Surup Danta. Manah ipune ngojog pasar, rauh ring pamargian raris kacunduk ipun antuk janmane irika, tur raris katakenin ipun I Krinting. jro jro, napi adep jrone mawadah kisa begeh, Masaur I Krinting, Tiang ngadol, poeniki keliliran. Napi mawasta kenten, sapunika sane kacunduk. Indayang rerenang deriki jro. Raris kararyanang antuk I Krinting, irika raris kabalihin, tur kagagah kisan ipune. Kanten raris celak pakajutjut, tur maungkad tiga. Pinih ageng, aji laksa. Sane menengah, aji limang tali, sane pinih alit aji kalih tali limang atus. Beh kidik kendel ipune i janma Surup Danta, raris makaukan ipun sami ring timpal ipune. Adi embok-embok ajak mekejang, mai dini laku mabelanja, ne ada dagang ngadep melah-melah. Dening asapunika sami timpal ipune nyagjag, raris ngarunjung irika ring i Krinting, tur raris katakenin, Aji kuda jro niki abesik. Saur I Krinting. Ipun ungkad tiga. Punika sane ageng aji laksa, sane menengah aji limang tali, pinih alit aji duang tali limang atus, tur nenten dados tawah. Wawu asapunika, dening manahin ipun mudah antuk i janma mablanja, irika raris kaambil, wenten ngambil patpat, wenten ngambil kakalih, sane drewekan turing madue jinah akutus ipun ngambil, tur sami sampun kataur. Pamuput telas adolane I Krinting, jantos ipun polih medagang aji juta. Wenten kari janmane sane durung polih ipune, Apa belin cai, dadi lais pesan, turing kanti marebut,  Raris kaedengin antuk timpal ipune. janmane sane durung polih numbas, kacelu manah ipune, dening adolan utama, raris mapajar ring timpal ipune, baang ja embok mulihin abesik dadua,  Masaur nene sampun polih numbas, Tiang kuangan, tiang makeneh meli buin. Raris renget manah ipune sane durung polih numbas, tur nyagjag ring I Krintinge. Samalih sada tangsiuh ipun medal baos, mabatbat ipun I Krinting. Ne  jone madagang mai, dadi sing pesan ngelah sikut. Paingan tonden cukup baan jrone, lakar madagang mai, apang sida anake dini maan mabelanja pada mabesik, patute nden anake mai. yen ben jrone ngae, gaenin malu anake, apang da dadi piri-irian. Wawu asapunika, malih rauh janmane sane durung polih numbas sane mula manahne brangsongan, antuk gedeg manahne nenten polih numbas, raris ipun macelak. Bah ne dong iba luana madagang, muani ko iba. Jani gantin kaine ngalih upah. Dening sareng akeh ngantenang, raris kareboetin I Krinting. Wenten ngumad kaler, wenten ngumad kelod, jantos marasa lad buntut ipune. Kaping kalih sane sampun polih numbas, jinah ipune palaib-laibang ipun, kasuen leleh ipun I Krinting, raris wenten timpal ipun patut manahne, punika sane rauh nepasin, tur raris ipun mapajar, Wih nyai ajak makejang, mareren malu, suud ngetoang anake, padalem ja kanti leleh. Raris kararianang ngoros ipun I Krinting. Irika raris kapituturin. Nah ne kene ja abete jani ajak makejang. Buina gustin nyaine gustin emboke, tusing ja ida maan matatumbasan. Melah jalan aturang teken ida dagange tenenan, apang dadi suud nyai makeriakan. Yadiapin keneang dini, tan pariwangde jelma mati miyegan payu. Tan dumade punika kapatut raris sareng sami, raris ngaturang indik sakadi babaose sane inunian, tur kawewehin raris antuk I Krinting, aturan ipune. Ledang pisan ana ke agung istri nerima janmane punika. Malih antuk suene nenten naen mamanggihin janma muani. Puput yening makayun wiadin mamanah janmane irika pacang madruwe pianak, ring semengane puput nungging ipun marep kangin, tan siyos batara Surya sane kaacepang. Punika pinaka kaanggen kurenan ipun antuk janmane irika, maawinan ipun dados madruwe pianak, puput saking sadrasa sasawangan. Mangkin waluya anake agung karauhan janma muani, punika maawinan ledang pakayunan idane. Gelising carita raris wengi, raris ida merem, tur kanikain raris I Krinting, Nah jro anak muani, mai jrone dini masare ajak tiang. Cendet buat pangedih tiange teken jrone, tiang ngidih kalegan buat dipasaren. Raris matur I krinting, Inggih dewa ayu, titiang ngiring pakayunan i dewa, sakewanten pinunas titiang, dening inucap jagate iriki, sami kocap sarira magigi, punika nawegang titiang, yen pade mangkin titiang ngiring tjokor i dewa, tan pariwangde rusak titiang. Yen pinih pahayu dumun, mangda sampunang dados nyakitin. Dening kalulutan bes banget kayun idane, irika raris ida ngadianin, tur mamahayu raga, nunasang ring batara Sanghiang Widi. Irika rauh ida batara warah, tur raris kaprelina. Raris ical jagate irika. Malih ida ngawantonin ngredana jagat. Malih raris metu, awinan kadi perahin janma irika, meluh muani, irika raris jagat punika kawastanin Kurubaja, tur irika raris ipun I Krinting nyeneng ratu, mapasengan Prabu Kurubaja.
20.  Kalimat Awal 
Satua I Tengkulak inggih wenten tuturan satua jadma ubuh, mawasta I Tengkulak. Ipun ten madue wisaya, karyan ipune ring pasar nunas-nunas, ngidi-ngidih ring nuju wenten anak madaar, ring wusane madaar ngentungang tekor, punika kaambil antuk I tengkulak                                   :
21.  Kalimat Akhir                                     :
Dening kalulutan bes banget kayun Ida ne, irika raris Ida ngadanin tur mamahayu raga, nunasang ida Sang Hiang Widi. Irika rauh batara warah, tur raris kapralina. Raris ical jagate punika. Malih ida ngawantunin ngredana jagat malih raris metu, awinan kadi perahin jadma irika, meluh muani, irika raris jagat punika kawastanin Kurubaya, tur irika raris ipun I Krinting nyeneng ratu, mapasengan prabu kurubaya. Puput.

B.     Cerita Aslinya
Satua I Tengkulak
Inggih wenten satua jadma, mawasta I Tengkulak. Ipun ten madue wisaya, karyan ipune ring pasar nunas-nunas, ngidih-ngidih, ring nuju wenten anak madaar, ring wusana madaar ngentungang tekor, punika kaambil antuk I Tengkulak. Dening asapunika, sue pisan antuk apun lara, kapingkalih timpal ipune sami ngedegin, irika raris wetu manah ipune las ring desan ipune, mamanah pacang lunga ngulak-ulak ngarereh kakaryanan caritanan raris ipun mamargi, tur ring mamargine ipun maselselan ring dewek, ring kalacuran ipune, sambil ipun ngarenggeng. Kene ja lacur tiange, dija ada anak olas, nyupat tiang, tiang bakal masanggup ngamanjakin, asapunika pangucap ipune newek, sambilang ipune mamargi, tur ngentap alas wayah. Suaran macan pagelu. Dening ipun ngamanahin dewek ipun pacang padem, dados nenten ja midep jerih, taler wengi rahina ipun mamargi. Tan duma-de rauh raris ipun ring pinggir sagarane kaler sane kaucap sagara Batu. Rauh irika ipun mararisan, tur raris marengang matan ipune ngiwas-iwasin jadma, suung pisan irika, dening mula ten sasaban jadma. Malih ipun ngarenggeng ring manah ipune, ne kenken abete jani, pade ngaliwat pasih, apa tegakin, jukung sing ja ada dini. Dados kasuen-suen ipun ngarenggeng, dados ipun bedak, irika raris ipun pacang ngarereh toja ring sagarane. Wawu enteg jerijin buntut ipune asiki sane ring kacing, raris dados batu kacing ipune mabentil. Dados tengkejut manah ipune, wawu ton ipun kacing ipune mabentil. Irika raris ipune mamanah. Bah ne kene nyane dini, nyandang sing ja ada pentasan, jelma, ne jenenga ane madan pasih Batu. Dening asapunika mamanah ipune, mangde ipune lunga, malih raris ipun matulak mantuk. Sawatara wenten asasih pamargin ipun ngalunga jang wiadin ngamantukang, dados berag pisan ipun. Tan carita ring pamargian, sarauh ipune jumah, akeh sami timpal ipune mataken ne jani Tengkulak kenapa jani berag dadi, buina uling, makelo jani tusing ja ngenah, masaoer I Tengkulak nah icang okane luas ngulak-ulak ngalih gegaen, apa lacur cang dijalan. Keneh icange lakar ngaliwat pasih, dadi langsot baan icang majalan, kapasih batu bakat ojog. Teked ditu, dening suung, katuju icang bedak, lantas icang ka ceblokane. Mara jemak icang jehe, enteg bantas kacing icange dogen, laut ja dadi batu. Ento awanan ilang matulak buin mulih.Melahan ja jumah pesan nongos, asapunika timpal ipune. Yadiapin dija tongosang awake, yaning konden ada ganti, diapin dimuncuk tumpenge negak, lamun sing limane anggon nyemak, sing ja krama muncuk tumpenge ngalih bungut, asapunika pitutur timpalne. Raris kaidepang I Tengkulak, raris kasuen-suen kari taler ipune  lacur, wenten raris wetu manah ipun ring griya raris kanikain antuk ida pranda. Apa alih cai Tengkulak tumben mai, Raris matur I Tengkulak. Ratu pranda, wenten lungsur titiang ring singgih pranda, bes asapuniki lacur titiange, saking titiang alit jantos titiang truna, taler kari titiang manggih lacur. Mangkin yen sueca pranda, titiang nawegang ngalungsur tenung, nanging titiang ngaturang banten. Nah lamun keto Tengkulak, dadi masih dening Tengkulak lacur sing ja ngelah meme bapa. Asapunikan pangandikan ida pranda, tur raris kagagahang lontar. Bah ne kene cai Tengkulak adan. Ditu diliman caine lakar cang alihang adan. Dening kacing caine mabentil baan batu, asing jemak cai, ya suba ngarinting, awanan cai I Krinting jani adanin cang. Ditu jalarang caine  lakar nepukin rahayu. Tan cinarita, puput babos ring griya, raris ipun mapamit I Krinting tur raris ipun kajaba, panggihina sami ring timpal ipune, tur derika raris ipun ngeraos I Krinting. Nah jani cai beli pada ajak makejang, suudang pesan ngaukin tiang I Tengkulak, jani I Krinting adan cange, saking pangandika Ida pranda. Dening anake madan I Tengkulak kabaos lacur, ento krana icang mapawarah teken cai miwah beli ajak makejang. Raris tutut timpal ipune sami makaukan magentos, I Krinting  raris kakaoekin. Sasampune mawasta I Krinting, kasuen-suen, taler kari lacoer, irika raris malih ngalalu manah ipune. Sedek rahina kajeng kelion, nuju purnama, wengi wenten pinganan tengah lemeng, raris ipun ka Dalem makemit. Sasampone rauh ipun ring Dalem, teka jeg pulesang ipun dewek ipun ring purian. Napi gelisin carita, sedek ida batara Durga medal, irika raris kacingak I Krinting ipun pules nyingkrung. Irika raris wetu kayun idane kapiwelas, nyingakin ipun I krinting, tur raris kadundun. Ih iba Krinting, bangun iba suud pules amonto, apa butang iba sangkan iba pules, Wawu asapunika pangandikan ida batara, bangun lantas I Krinting, raris ipun miwasan, ton ipun batara magremba-gremba, irika jehjeh manah ipune I Krinting, tur raris ipun ngeling, jerit-jerit ipun sambilang nekep jit antuk jejehe. Raris kanikain antuk ida batara. Ngudiang iba ngeling Krinting, da iba ngeling, ne aku batara Durga, asapunika pangandikan ida batara, raris ida magentus warna, mawarna manusa kadi patute, wawu wusan raris I Krinting jejeh, raris kadesekin antuk ida batara. Krinting apa buat saja alih iba mai. Nah orang teken aku. Derika matur raris I Krinting, Inggih ratu batara, titiang ngalungsur sapa raning ledang batara maicayang ring titiang. Irika raris ida batara ngandika, Nah ne Krinting, pagehang pesan iban sing dadi iba loba, ne aku maang iba pipis tatlu, klentinganang pipise tenenan, sakeketeng, apa ja kenehe ngidihin, ditu ja suba misi, asapunika pangandikan ida batara, tur raris kapicayan Punika raris kapamitang antuk I Krinting, ngraris matur ipun mapamit. Ratu paduka batara, titiang ngalungsur mapamit ring palungguh batara, dumadak mangda batara kasiden, laba titiang mapikolih saka di pangandikan batara, asapunika atur I Krintinge. Raris ipun mamargi kajaba. Tan carita ring margi rauh ring beten kepuhe ageng, ring jaban purane. Ring beten kepuhe madaging batu lengser, irika raris ipun maririan, sambilang ipun mamanah-manah. Beh kakene olas ida batara, ngicenin waranugraha. Kakene buin pipis tatlu, apa ja lakar sida anga tenenan, mirib tuah uluk-uluka baan ida batara, pakendelina dogen. Raris cuba manah ipune I Krinting. Batara bes lebian jail, ne dini lakar kalentingang. Irika ring batune lengser raris kaklentingan, raris kaseluk abidang jinahe saking sapute, antuk campah ipune ring manah, tur rarisang ipun kalentingang ipun Ting krinting, wastu apang ada celak selegut begeh. Tan dumade wawu asapunika raris padengok celake, pageduh saking bongkol padange, kantos bek ring soring kepuhe. Irika raris I Krinting gelu, tur raris ipun mapajar. Beh dewa ratu, malah-malah ja titiang nyoba, ne saking jati sueca ida batara, bakat kadenang ida jail, asapunika manah ipune I Krinting. Ne kenken jani abete. Dening nu pipise buin dadua, apa jani tagihin ne, jen tagihin kasugihan, ne kene celake begeh pesan, jen pade uningine baan ida batara, sinah banya lakar anggon ngilangang celake, nene aketeng lakar tunasin kasugihan.” Asapunika manah ipune I Krinting, raris kaklentingang malih abidang punika jinahe Ting krinting, wastu apang ada ilang celake makejang. Ical raris makasami punika celake, rauhing celak ipune I Krinting. Irika raris balihin ipun celak ipune paawinan ical kantenang ipun. Irika gelu manah ipune, raris ipun mabaos ring padewekan ipune. Beh ne kene tunas awake coba ring ida batara, dening suba da paceket batara, nganikayang tusing dadi coba, digantin lacure tepukin nadak sara dadi coba masih banja. Asapunika pangarenggeng ipun I Krinting, raris keweh ipun mamanah. Jani kenken abete, pipi nu bin keteng, yen payu tunasin kasugihan, deweke kakene tan pacelak. Yen jela ke tunas apang buin tumbuh, lacure nu buka kakene. Ah kene pisan abete, kadung awak suba lacur, diapin kenkenang masih neraka, ulat sugih tusing macelak. Apa indrian idepe nyen. Adaan celake suba tunas, kaping eling ipun, ring katuturang odah ipune. Wenten kocap desa mawasta Surup danta. Janmane irika sami luh, nenten muanin ipun. Turing sariran ipune magigi. Punika awinan nenten wenten anak muani. Irika raris I Krinting epot ngarereh palpalan kaanggen kisa. Sawetara petang dasa punika kawadin kisa, sasampune puput mawadah kisa, I krinting raris ipun mawesa luh makamben luh turing mapusung. Punika raris kabakta kisane makasami sane madaging celak tur raris mamargi. Tan carita ring margi, kasuen-suen rauh ring Surup Danta. Manah ipune ngojog pasar, rauh ring pamargian raris kacunduk ipun antuk janmane irika, tur raris katakenin ipun I Krinting. jro jro, napi adep jrone mawadah kisa begeh, Masaur I Krinting, Tiang ngadol, poeniki keliliran. Napi mawasta kenten, sapunika sane kacunduk. Indayang rerenang deriki jro. Raris kararyanang antuk I Krinting, irika raris kabalihin, tur kagagah kisan ipune. Kanten raris celak pakajutjut, tur maungkad tiga. Pinih ageng, aji laksa. Sane menengah, aji limang tali, sane pinih alit aji kalih tali limang atus. Beh kidik kendel ipune i janma Surup Danta, raris makaukan ipun sami ring timpal ipune. Adi embok-embok ajak mekejang, mai dini laku mabelanja, ne ada dagang ngadep melah-melah. Dening asapunika sami timpal ipune nyagjag, raris ngarunjung irika ring i Krinting, tur raris katakenin, Aji kuda jro niki abesik. Saur I Krinting. Ipun ungkad tiga. Punika sane ageng aji laksa, sane menengah aji limang tali, pinih alit aji duang tali limang atus, tur nenten dados tawah. Wawu asapunika, dening manahin ipun mudah antuk i janma mablanja, irika raris kaambil, wenten ngambil patpat, wenten ngambil kakalih, sane drewekan turing madue jinah akutus ipun ngambil, tur sami sampun kataur. Pamuput telas adolane I Krinting, jantos ipun polih medagang aji juta. Wenten kari janmane sane durung polih ipune, Apa belin cai, dadi lais pesan, turing kanti marebut,  Raris kaedengin antuk timpal ipune. janmane sane durung polih numbas, kacelu manah ipune, dening adolan utama, raris mapajar ring timpal ipune, baang ja embok mulihin abesik dadua,  Masaur nene sampun polih numbas, Tiang kuangan, tiang makeneh meli buin. Raris renget manah ipune sane durung polih numbas, tur nyagjag ring I Krintinge. Samalih sada tangsiuh ipun medal baos, mabatbat ipun I Krinting. Ne  jone madagang mai, dadi sing pesan ngelah sikut. Paingan tonden cukup baan jrone, lakar madagang mai, apang sida anake dini maan mabelanja pada mabesik, patute nden anake mai. yen ben jrone ngae, gaenin malu anake, apang da dadi piri-irian. Wawu asapunika, malih rauh janmane sane durung polih numbas sane mula manahne brangsongan, antuk gedeg manahne nenten polih numbas, raris ipun macelak. Bah ne dong iba luana madagang, muani ko iba. Jani gantin kaine ngalih upah. Dening sareng akeh ngantenang, raris kareboetin I Krinting. Wenten ngumad kaler, wenten ngumad kelod, jantos marasa lad buntut ipune. Kaping kalih sane sampun polih numbas, jinah ipune palaib-laibang ipun, kasuen leleh ipun I Krinting, raris wenten timpal ipun patut manahne, punika sane rauh nepasin, tur raris ipun mapajar, Wih nyai ajak makejang, mareren malu, suud ngetoang anake, padalem ja kanti leleh. Raris kararianang ngoros ipun I Krinting. Irika raris kapituturin. Nah ne kene ja abete jani ajak makejang. Buina gustin nyaine gustin emboke, tusing ja ida maan matatumbasan. Melah jalan aturang teken ida dagange tenenan, apang dadi suud nyai makeriakan. Yadiapin keneang dini, tan pariwangde jelma mati miyegan payu. Tan dumade punika kapatut raris sareng sami, raris ngaturang indik sakadi babaose sane inunian, tur kawewehin raris antuk I Krinting, aturan ipune. Ledang pisan ana ke agung istri nerima janmane punika. Malih antuk suene nenten naen mamanggihin janma muani. Puput yening makayun wiadin mamanah janmane irika pacang madruwe pianak, ring semengane puput nungging ipun marep kangin, tan siyos batara Surya sane kaacepang. Punika pinaka kaanggen kurenan ipun antuk janmane irika, maawinan ipun dados madruwe pianak, puput saking sadrasa sasawangan. Mangkin waluya anake agung karauhan janma muani, punika maawinan ledang pakayunan idane. Gelising carita raris wengi, raris ida merem, tur kanikain raris I Krinting, Nah jro anak muani, mai jrone dini masare ajak tiang. Cendet buat pangedih tiange teken jrone, tiang ngidih kalegan buat dipasaren. Raris matur I krinting, Inggih dewa ayu, titiang ngiring pakayunan i dewa, sakewanten pinunas titiang, dening inucap jagate iriki, sami kocap sarira magigi, punika nawegang titiang, yen pade mangkin titiang ngiring tjokor i dewa, tan pariwangde rusak titiang. Yen pinih pahayu dumun, mangda sampunang dados nyakitin. Dening kalulutan bes banget kayun idane, irika raris ida ngadianin, tur mamahayu raga, nunasang ring batara Sanghiang Widi. Irika rauh ida batara warah, tur raris kaprelina. Raris ical jagate irika. Malih ida ngawantonin ngredana jagat. Malih raris metu, awinan kadi perahin janma irika, meluh muani, irika raris jagat punika kawastanin Kurubaya, tur irika raris ipun I Krinting nyeneng ratu, mapasengan Prabu Kurubaya.











C.    Translet Bahasa Indonesia
Cerita I Tengkulak
Ini ada cerita manusia, bernama i tengkulak. Dia tidak mempunyai semangat, pekerjaannya di pasar minta-minta, di saat ada orang makan, sesudah orang makan melemparkan tekor (tempat nasi yang terbuat dari daun pisang), lalu itu diaambil oleh I Tengkulak. Sesudah itu, sangat lama ia sengsara, selanjutnya teman-temannya semua memusuhinya, disana lalu dia mempunyai perasaan iklas di desanya, berpikir untuk pergi berdagang secara sederhana mencari pekerjaan ceritanya lalu ia pergi, dan di jalan ia menyesal kepada dirinya, dengan kemiskinannya, sambil ngedumel, begini sudah saya miskin, dimana saja ada orang membantu, menjadikan saya, saya akan bersedia melayaninya, begitulah ucapnya, sambil ia berjalan, dan melewati hutan belantara. Suara macam mengaum. Jika ia berpikiran ia akan mati, buka berarti ia takut, malam hari itu juga ia berjalan. Tidak tiba-tiba ia lalu ke pinggir pantai utaranya yang di bilang pantai batu. Disanalah ia beristirahat, sambil matanya mengawasi orang, disana sangat sepi, tak ada manusia satupun. Lagi ia ngedumel, bagaimana ini, semua pada menyebrangi lautan, apa yang harus aku naiki, jukung pun tak ada disini. Lama-kelamaan ia ngoceh sendirian, akhirnya ia pun haus, disana lalu ia mengambil air di pantai. Baru jari kakinya menyentuh air, airnya hanya sampai pada ujung jari kelingkingnya, lalu kelingkingnya lepas menjadi batu. Ia pun terkejut, apa ia tidak salah lihat kelingkingnya lepas. Dalam benaknya, kok seperti ini disini, pantas saja tak ada seorang pun, apakah ini yang dinamakan pantai batu. Jika begitu pikirannya, supaya ia pulang lalu ia langsung bergegas kembali. Kira-kira ada satu bulan untuk menempuh perjalanan pulang. Sampai ia sangat kurus. Singkat cerita di jalan sedatang ia dirumah, banyak teman-temannya bertanya, sekarang Tengkulak kenapa sekarang menjadi sangat kurus, lama tak bertemu. Jawab I Tengkulak, maunya saya menyebrangi lautan, ternyata salah jalan, malah ke pantai batu yang saya temukan. Sampai disana, sangat sepi, disaya saya sangat haus sekali, lalu saya ke genangan air. Baru saya ambil airnya, Cuma sampai pada kelingking kaki saya, lalu menjadi batu, itu yang menyebabkan saya untuk kembali pulang. Mendingan dirumah saja berdiam diri, begitulah kata temannya. Meskipun dimana pun saya berada, biar pun belum ada pengganti, meskipun kita berada di puncak tumpeng, kalau tidak dengan tangan yang dipakai untuk mengambilnya, tidak akan ada tumpeng yang akan mencari bibir, begitulah nasehat temannya. Lalu dicamkan oleh I Tengkulak, lalu lama-kelamaan masih saja ia miskin. Keluarlah idenya ia di griya di beritahu oleh Ida Peranda. Apa yang kamu cari Tengkulak, tumben kamu kesini, lalu di jawab oleh I Tengkulak, ada yang saya minta dari Peranda, terlalu seperti ini kemiskinan saya, dari saya baru lahir sampai saya dewasa, dan masih saja miskin. Sekarang jika pemberian peranda, saya minta petunjuk tenung, tetapi saya memberikan sesajen. Ya kalau begitu Tengkulak, boleh juga jika Tengkulak miskin tidak akan punya orang tua. Begitulah kata Ida Pranda, lalu dibukalah lontar. Aduh, kok seperti ini nama mu Tengkulak. Nanti ditanganmu akan aku carikan nama. Jika kelingking kamu kebentur batu, yang berdiri kamu ambil, itu yang sudah ngarinting, karena kamu I Krinting saya berinama. Disana melanjutkan kehidupan akan melihat keselamatan. Singkat cerita, selesai berbicara di griya, lalu ia pamit pergi I Krinting lalu pulang kerumahnya, dipanggillah semua teman semuanya dikatakan I Krinting.
Ya sekarang, beli-beli semuanya, hentikan memanggil saya I Tengkulak. Sekarang nama saya I Krinting, dari Sang Ida Pranda. Jika orang bernama I Tengkulak dikatakan miskin, itu yang menyebabkan saya memberi tahu kamu dan beli semuanya, lalu semua temannya memanggil seperti itu, I krinting lalu di panggil. Sesudah bernama I Krinting, lama-kelamaan tetap saja miskin, disana lalu ia lagi merenungkan pikkirannya. Di hari kajeng keliwon, menuju purnama, malam ada pinganan tengah malam, lalu ia ke pura Dalem bergadang. Sesudah datang Ida ring pura Dalem, datang lalu tidur langsung di Puri. Singkat cerita, pada saat Ida Batara Durga keluar, di sana lalu dilihat I Krinting ia tidur. Di sana lalu keluar niat  keprihatinan, melihat dirinya I Krinting, lalu dibangunkan, ih kamu Krinting, bangun kamu segitu saja kamu sudah tidur, apa yang kamu perbuat sampai tertidur. Sesudah itu kata Ida Batara, lalu bangunlah I Krinting, lalu ia mendengar Batara memanggil-manggil, di sana perasaannya takut I Krinting, langsung menangis teriak-teriak ia sambil menekan pantatnya saking takutnya, lalu diberitahu oleh Ida Batara. Kenapa kamu menangis. Jangan kamu menangis , ini aku Batara Durga, begitulah kata Ida Batara, lalu Ida merubah wujudnya, menyerupai manusia seperti biasanya. Setelah I Krinting takut, lalu di dekatin oleh Ida Batara. Krinting apa yang kamu cari ke sini. Ya, katakan padaku. Disana lalu berbicaralah I Krinting. Ya, Ratu Batara, saya meminta sapa yang bersedia memberi anugrah kepadaku. Lalu berkatalah Sang Ida Batara. Ya Krinting teguhakan lah pendirianmu tidak boleh serakah, ini aku memberi kamu uang tiga, lemparkanlah uang itu, satu persatu, apa saja yang kamu kehendaki, disana bakalan terus mendapatkan apa yang kamu inginkan. Begitulah kata sang Ida Batara, lalu anugrah itu lalu di pamitkan untuk I Krinting. Ratu Paduka saya meminta pamit. Semoga diberikan welas asih Ida Batara. Supaya memperoleh untung dari kata Sang Batara. Begitulah kata I Krintinge. Lalu berjalan ke bagian luar istana. Singkat cerita di jalan datang di bawah pohon kepuh yang sangat besar, di luar pura. Di bawah kepuh batu lengser, disana lalu  ia beristirahat sambil berpikir. Aduh, beginilah belas kasihan Ida Batara, memberikan pemberian yang utama. Begini lagi uang tiga ini, apa yang akan dipakai ini, mirip tuah ulak-ulak untuk Ida Batara, dibahagiaakan saja. Batara terlalu banyak jail, ini disi mau akan dilemparkan. Disana di batu lengser lalu dilemparkan, lalu diambilnya satu lembar uangnya dari saput (kain yang dililitkan di sekitar pinggang), perasaannya terlalu diremehkan, lalu dilanjutkan di lemparkannya Ting Krinting. Supaya mendapat kemaluan yang banyak. Tiba-tiba setelah itu lalu muncul kemaluannya. Tumbuh dari akar rerumputan, sampai banyak dibawah pohon kepuh. Disana I krinting berteriak terkejut, lalu ia berkata. Aduh dewa ratu, malah-malah saya mencobanya, ini dari anugrah ida batara, saya kira ida batara jail terhadapa saya, begitulah pikirnya. Bagaimana sekarang, kalau uangnya tinggal lagi dua, apa yang harus saya minta, kalau minta kekayaan, seperti ini kemaluan sangat besar, jika pada diketahui oleh ida batara, ini akan di pakai untuk menghilangkan kemaluan besar ini, yang lagi satu uang kepeng saya minta kekayaan. Begitulah idenya I Krinting, lalu dilemparnya satu uang kepeng itu, ting krinting, moga-moga  supaya hilang semua kemaluan ini. Hilanglah semuanya kemaluan itu, dan juga kemaluan I Krinting. Hatinya pun terkejut, ia lalu berbicara sendirian. Aduh ini begini yang saya minta dari ida batara, kalau sudah petuah batara, memberitahu tidak boleh di coba, di saat sial tiba-tiba bisa dicoba. Begitulah dumelan i krinting, lalu susah ia berpikir. Sekarang bagaimana ini, uang masih satu kepeng, kalau jadi minta kekayaan , saya akan masih tidak berkemaluan. Jika kemaluan diminta agar tumbuh kembali, kemiskinan masih seperti ini. Ah seperti ini , biar sudah kamu sudah miskin, biarpun bagaimanun tetap saja neraka yang kamu dapatkan, meskipun kaya tapi tanpa kemaluan. Mendingan kemaluam saja saya minta, kadung sudah ingat, dari nasehat korangtuanya. Ada sebuah desa yang bernama surup danta, masyarakat disana semua perempuan, tidah ada laki-laki satupun. Di sana lalu i krinting sibuk mencari daun kelapa untuk dibuat anyaman. Kira-kira empat puluh  kemaluan itu ditempatkan di anyaman itu. Sesudah selesai di tempatkan, I Krinting menyamar menjadi perempuan memakai kain perempuan dan rambutnya di gelung. Lalu di bawanya anyaman itu semua yang berisikan kemaluan dan lalu bergegas berjalan. Singkat cerita di jalan, lama-kelamaan tiba di surup danta, idenya datang ke pasar, datang dari perjalanan ketemu masyarakat di sana, lalu ditanyalah i krinting. Jro jro, apa yang kamu jual betempatkan anyaman besar, jawab i krinting, saya jual, ini turun temurun. Coba hentikan disini jro. Lalu diberhentikannya oleh i krinting, disana lalu dipegangnya, lalu dibukalah ayaman itu. Kelihatan kemaluan yang bergerak-gerak. Dan ada tiga pilihan. Yang paling besar seharga dua puluh ribu. Yang menengah seharga lima ribu, yang paling kecil seharga dua ribu lima ratus. Sangat girang sekali masyarakat surup danta, lalu dipanggillah semua masyarakat yang ada disana. Adik dan kakak-kakak semuanya disisni saja berbelanja, ini ada dagang yang bagus-bagus. Semua temannya datang, lalu semua berkerumunan disana, lalu ditanyalah, berapa satu harganya ini jro, jawab i krinting, Dan ada tiga pilihan. Yang paling besar seharga dua puluh ribu. Yang menengah seharga lima ribu, yang paling kecil seharga dua ribu lima ratus, dan tidak boleh di tawar. Sesudah itu, jika menurutnya itu murah untuk masyarakat berbelanja, lalu dibelinya, ada yang mengambil empat, ada yang mengambil dua, yang kaya dan mempunyai uang delapan ia membelinya, dan semua sudah di bayarnya. Alhasil semua habis dagangan i krinting, sampai dapat menjual jutaan. Ada masih orang  yang belum mendapatkannya. Apa yang kamu jual, kok laris sekali, sampai berebutan. Lalu di perlihalkanlah oleh temannya. Orang yang belum dapat membeli, pasti iri hatinya, kalau dagangan laris, lalu berkatalah dengan temannya, kasi dah mbok mendapatkan satu atau dua. sahut yang sudah dapat membeli, saya kurangan, saya ingin membeli lagi, lalu tampak marah yang belum dapat membeli, lalu mendekati i krinting. Dan lagi agak kasar keluar kata-katanya, memarahi i krinting. Ini dari mana berdagang ke sini, tidak punya wilayah. Biar dapat orang disini membeli satu persatu. Jika jro yang buat, buatkanlah dulu, supaya tidak ada yang iri. Setelah itu, lalu datang orang yang belum dapat membeli yang emang cepat marah, karena marah tidak dapat membeli, lalu ia pun berkemaluan. Ini bukan perempuan yang berjualan, laki-laki kamu, sekarang aku yang mencari upahnya, kalau berbanyak menunggunya, lalu direbutlah i krinting. Ada yan menarik ke utara, ada yang menarik ke selatan., sampai merasa kotor dirinya. Yang kedua, yang sudah dapat membeli, uangnya dilarikan olehnya. Lama-kelamaan ia pun merasa capek, lalu ada temannya yang baik hatinya, lalu dihampiri dan berkata, hei kamu semuanya, berhenti dulu, hentikan menarik orang itu, kasihan ia sampai lelah. Lalu di hentikannya. Di sana di nasehati, sekarang begini semuanya. Lagi pula rajamu rajaku juga, tidak boleh ida dapat berbelanja. Sebaiknya dsembahkan kepada pedagang itu, agar kamu tidak lagi ribut. Meskipun seperti ini di sini, tidak seharusnya orang mati juga. Tidak tiba-tiba itu diperbolehkan semuanya, lalu mempersembahkan perihal wacana tadi, dan diberikan untuk i krinting. Sangat bahagia sang putri menerima orang itu. Karena dari dulu tidak pernah mengenal laki-laki. Jika setuju untuk memiliki seorang anak, dari pagi hanya nungging menghadap ke timur, tidak lain batara surya yang disebutnya. Itu dijadikan suami untuk orang-orang di sana, karena ia boleh memiliki anak. Selesai dari menciptakan sadrasa. Sekarang perawakan putri itu didatangi oleh seorang laki-laki, itu yang menyebabkan keinginannya. Singkat cerita di malam hari, lalu ida memejamkan mata, dan diberitahu lalu i krinting, inggih dewa ayu, saya menerima keinginan i dewa, tetapi yang saya minta, jika itu yang membuat jagat damai, semua harus memiliki gigi. Jika sama mari saya mengajak tuanku yang mulia, tidak urung rusak saya. Jika jadi kelak, supaya tidak ada saling menyakiti. Jika cinta kasih bersuami istri yang di inginkan ida. Di sana lalu ida bersedia, dan membersihkan diri, meminta dari batara sanghiang widi. Di sana datang ida batara warah, dan lalu di lebur. Lalu hilang jagat di sana. Ida kembali mengembalikan jagat. Lalu keluarlah lagi, karena seperti di campur orang di sana, laki perempuan, lalu di sana di namakan jagat kurubaya, dan i krinting menjadi raja, bernama prabu kurubaya.

D.    Unsur Instrinsik
1.      Tema : kehidupan sosial dan percintaan
2.      Tokoh dan Penokohan :
a)      Tokoh utama / protagonist(primer) : I Tengkulak/I Krinting/Prabu Kurubaya
b)      Tokoh Skunder : Teman I Tengkulak, ratu peranda, batara durga, pembeli
c)      Tokoh komplementer protagonis : anak agung istri
3.      Alur / Plot:
Pembagian Alur Menurut Susunannya :

a)         Alur lurus : cerita tersebut disusun dimulai dari kejadian awal diteruskan dengan kejadian – kejadian berikutnya dan berakhir pada pemecahan masalah.        
b)        Alur Gabungan: dari keduanya itu keduanya dijalin dalam kesatuan jalinan yang padu sehingga tidak menimbulkan kesan adanya dua buah cerita atau peristiwa secara terpisah.

Pembagian  Alur menurut jenisnya:
a. Alur Rapat : apabila dalam suatu cerita perkembangannya hanya terpusat pada satu tokoh.

4.      Insiden :
a.       Insiden utama : Malih ipun ngarenggeng ring manah ipune, ne kenken abete jani, pade ngaliwat pasih, apa tegakin, jukung sing ja ada dini. Dados kasuen-suen ipun ngarenggeng, dados ipun bedak, irika raris ipun pacang ngarereh toja ring sagarane. Wawu enteg jerijin buntut ipune asiki sane ring kacing, raris dados batu kacing ipune mabentil. Dados tengkejut manah ipune, wawu ton ipun kacing ipune mabentil. Irika raris ipune mamanah. Bah ne kene nyane dini, nyandang sing ja ada pentasan, jelma, ne jenenga ane madan pasih Batu. Dening asapunika mamanah ipune, mangde ipune lunga, malih raris ipun matulak mantuk.
b.      Insiden kedua: Raris matur I Tengkulak. Ratu pranda, wenten lungsur titiang ring singgih pranda, bes asapuniki lacur titiange, saking titiang alit jantos titiang truna, taler kari titiang manggih lacur. Mangkin yen sueca pranda, titiang nawegang ngalungsur tenung, nanging titiang ngaturang banten. Nah lamun keto Tengkulak, dadi masih dening Tengkulak lacur sing ja ngelah meme bapa. Asapunikan pangandikan ida pranda, tur raris kagagahang lontar. Bah ne kene cai Tengkulak adan. Ditu diliman caine lakar cang alihang adan. Dening kacing caine mabentil baan batu, asing jemak cai, ya suba ngarinting, awanan cai I Krinting jani adanin cang. Ditu jalarang caine  lakar nepukin rahayu. Tan cinarita, puput babos ring griya, raris ipun mapamit I Krinting tur raris ipun kajaba, panggihina sami ring timpal ipune, tur derika raris ipun ngeraos I Krinting.
c.       Insiden ketiga : Ih iba Krinting, bangun iba suud pules amonto, apa butang iba sangkan iba pules, Wawu asapunika pangandikan ida batara, bangun lantas I Krinting, raris ipun miwasan, ton ipun batara magremba-gremba, irika jehjeh manah ipune I Krinting, tur raris ipun ngeling, jerit-jerit ipun sambilang nekep jit antuk jejehe. Raris kanikain antuk ida batara. Ngudiang iba ngeling Krinting, da iba ngeling, ne aku batara Durga, asapunika pangandikan ida batara, raris ida magentus warna, mawarna manusa kadi patute, wawu wusan raris I Krinting jejeh, raris kadesekin antuk ida batara. Krinting apa buat saja alih iba mai. Nah orang teken aku. Derika matur raris I Krinting, Inggih ratu batara, titiang ngalungsur sapa raning ledang batara maicayang ring titiang. Irika raris ida batara ngandika, Nah ne Krinting, pagehang pesan iban sing dadi iba loba, ne aku maang iba pipis tatlu, klentinganang pipise tenenan, sakeketeng, apa ja kenehe ngidihin, ditu ja suba misi, asapunika pangandikan ida batara, tur raris kapicayan Punika raris kapamitang antuk I Krinting, ngraris matur ipun mapamit.
d.      Kakene buin pipis tatlu, apa ja lakar sida anga tenenan, mirib tuah uluk-uluka baan ida batara, pakendelina dogen. Raris cuba manah ipune I Krinting. Batara bes lebian jail, ne dini lakar kalentingang. Irika ring batune lengser raris kaklentingan, raris kaseluk abidang jinahe saking sapute, antuk campah ipune ring manah, tur rarisang ipun kalentingang ipun Ting krinting, wastu apang ada celak selegut begeh. Tan dumade wawu asapunika raris padengok celake, pageduh saking bongkol padange, kantos bek ring soring kepuhe. Irika raris I Krinting gelu, tur raris ipun mapajar. Beh dewa ratu, malah-malah ja titiang nyoba, ne saking jati sueca ida batara, bakat kadenang ida jail, asapunika manah ipune I Krinting. Ne kenken jani abete.
e.       Wenten kari janmane sane durung polih ipune, Apa belin cai, dadi lais pesan, turing kanti marebut,  Raris kaedengin antuk timpal ipune. janmane sane durung polih numbas, kacelu manah ipune, dening adolan utama, raris mapajar ring timpal ipune, baang ja embok mulihin abesik dadua,  Masaur nene sampun polih numbas, Tiang kuangan, tiang makeneh meli buin. Raris renget manah ipune sane durung polih numbas, tur nyagjag ring I Krintinge. Samalih sada tangsiuh ipun medal baos, mabatbat ipun I Krinting. Ne  jone madagang mai, dadi sing pesan ngelah sikut. Paingan tonden cukup baan jrone, lakar madagang mai, apang sida anake dini maan mabelanja pada mabesik, patute nden anake mai. yen ben jrone ngae, gaenin malu anake, apang da dadi piri-irian. Wawu asapunika, malih rauh janmane sane durung polih numbas sane mula manahne brangsongan, antuk gedeg manahne nenten polih numbas, raris ipun macelak. Bah ne dong iba luana madagang, muani ko iba. Jani gantin kaine ngalih upah. Dening sareng akeh ngantenang, raris kareboetin I Krinting. Wenten ngumad kaler, wenten ngumad kelod, jantos marasa lad buntut ipune. Kaping kalih sane sampun polih numbas, jinah ipune palaib-laibang ipun, kasuen leleh ipun I Krinting, raris wenten timpal ipun patut manahne, punika sane rauh nepasin, tur raris ipun mapajar, Wih nyai ajak makejang, mareren malu, suud ngetoang anake, padalem ja kanti leleh.

5.      Latar / Setting :
a.       Latar Tempat : ring pasar, alas wayah, pasih batu, jumahne I Tengkulak, griya Ida Pranda, pura dalem, beten kepuh, di desa surup danta, ring pasar, ring griya anak agung istri.
b.      Latar waktu : tengah lemeng, wengi


           
6.      Amanat :
Amanat yang dapat kita lihat dari cerita diatas yaitu:
     Iraga dados manusa sane madue bayu sabda idep mangda terus mautsaha antuk ngarereh pangupa jiwa tur mangda madue kasugihan.nenten dados loba. Dening sampun wenten paceket ring ida batara, sepatutne raga dados manusa nglaksanayang paceket punika.mangda terus eling lan subakti kapining ida sang hyang widi wasa.